Friday, May 12, 2017

Tarif Tol Naik, Mending Cari Rumah Dekat Stasiun KRL




Tarif Tol Naik,
Mending Cari Rumah
Dekat Stasiun KRL



Sesuai dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) No. 799/KPTS/M/2016 Tanggal 14 Oktober 2016 Tentang Penyesuaian Tarif Tol pada Ruas Tol Jakarta-Cikampek, maka pada 22 Oktober 2016 Pukul 00.00 akan diberlakukan tarif baru.
Ruas Tol Jakarta-Cikampek merupakan ruas tol yang menghubungkan jalan tol dari Cawang ke Cikampek dan melintasi Kota Jakarta Timur, Kota dan Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang dan Purwakarta.
Anggota Badan Pengatur jalan Tol (BPJT) Unsur Profesi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Koentjahjo mengungkapkan, penyesuaian tarif tol tersebut dilakukan berdasarkan angka inflasi selama dua tahun terakhir yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terendah di wilayah yang dilalui jalan tol tersebut, yakni wilayah Bekasi sebesar 8,13 persen.

“Berdasarkan inflasi selama 2 tahun dari beberapa kota yang dilalui, diambil yang terendah dari data BPS adalah wilayah Bekasi. Hasilnya 8,13 persen, sehingga tarif tol terjauh untuk golongan I yang semula Rp13.500 menjadi Rp15.000,” papar Koentjahjo.

Perubahan tarif untuk masing-masing golongan di Ruas Tol Jakarta-Cikampek (Tarif Tol Cawang-Cikampek) adalah sebagai berikut:
Sebagai pengguna setia Tol Jakarta-Cikampek, Yanti Koesnan, yang bekerja di pusat bisnis Sudirman mengaku cukup pilu akan keputusan baru ini.
Sebabnya, kenaikan tarif tol akan berpengaruh terhadap budget transportasi yang ia siapkan per bulan.

“Diluar bensin, Saya biasanya menyisihkan Rp600 Ribu untuk bayar tol ruas Jakarta-Cikampek. Namun dengan adanya kebijakan baru, maka ada penambahan bujet menjadi Rp660 Ribu. Sedikit memang, tapi seharusnya kenaikan disertai dengan perbaikan,” ujarnya.



Menurut Yanti, kondisi lalu lintas Tol Jakarta-Cikampek setiap harinya masih tetap padat merayap. Terutama di pagi dan jam pulang kantor. Tak pelak, ia harus berangkat kerja sehabis subuh dan pulang lebih awal demi menghindari kemacetan parah.
Nasib serupa dialami Rima Mayang, karyawan yang bekerja di salah satu stasiun televisi swasta. Ia terpaksa berangkat dari rumahnya di perumahan Wisma Jaya, Bekasi Timur, sebelum pukul 05.00 WIB.
Harapannya, agar bisa tiba di Stasiun Kereta Rel Listrik (KRL) Bekasi tepat pukul 05.10 WIB lalu mendapatkan bangku kosong pada kereta yang berangkat pada pukul 05.25 WIB.
Telat lima menit saja, besar peluang ia tidak menemukan bangku kosong dan harus berdiri sampai di stasiun transit (Juanda).
Kendati naik KRL tak senyaman menggunakan mobil pribadi, namun kereta menjanjikan bebas macet meski terkadang mengalami gangguan. Oleh karenanya, Rima hanya butuh waktu kurang dari satu setengah jam untuk tiba di kantornya di bilangan Daan Mogot.
Dengan waktu keberangkatan yang sama dengan Rima, Yanti yang menggunakan mobil pribadi butuh waktu dua jam agar bisa duduk di kursi kerjanya.
Membandingkan sisi ongkos, sudah pasti KRL lebih hemat pasalnya tiket kereta sekali jalan hanya Rp3.000 saja. Jika dikali masa kerja 22 hari dalam satu bulan, maka ongkos KRL Rima berkisar Rp132 Ribu. Berbeda jauh dengan tarif tol, bukan?
Rekomendasi Hunian Dekat Stasiun
Mengingat alokasi bujet untuk KRL sangat terjangkau, tidak ada salahnya untuk Anda mencoba beraktivitas dengan transportasi publik satu ini. Apalagi saat ini kereta commuter line sudah menghadirkan kenyamanan dengan AC dan kursi yang empuk.
Terlebih bagi Anda yang tengah mencari hunian di area Bekasi, berikut Rumah.com sarankan beberapa perumahan yang punya akses dekat dengan Stasiun KRL di sana.

1.    Casa de Bali
Sesuai dengan namanya, unit di perumahan ini memang mengusung desain arsitektur Bali dengan sentuhan modern. Harga terendah yang dipasarkan adalah rumah tipe Amartha (60/70) senilai Rp850 Juta.
Lokasi perumahan ini berada 5,2km dari Stasiun KRL Bekasi. Tak pelak hanya perlu waktu 15 menit berkendara motor untuk tiba di sana.

Konsep hunian yang sama pun dianut perumahan garapan Madani Kreasi Land yakni unsur Bali modern. Bedanya harga rumah di sini relatif lebih terjangkau karena tersedia tipe sederhana (36/72) yang dipatok Rp400 Jutaan.
Jika penghuni Casa de Bali menghabiskan waktu tempuh 15 menit antara rumah dengan stasiun, penghuni Telaga Nirwana Residence butuh waktu lebih dari itu. Sekitar 20 menit dengan motor. Sebabnya, radius rumah dengan stasiun memang lebih jauh, yakni 6,5km.

Bila ingin lebih dekat dengan stasiun bahkan hanya perlu berjalan kaki, maka tinggal di apartemen adalah pilihan terbaik.
Seperti misalnya Tamansari Urbano yang terpaut 500 meter saja. Estimasi jarak ini memungkinkan Anda mencapai stasiun kurang dari 15 menit (jalan kaki).
Karena membidik konsumen kaum urban yang muda dan aktif, apartemen menyediakan beberapa fasilitas untuk memanjakan para penghuninya. Meliputi kolam renang, trek bersepeda hingga pusat kebugaran.

Karena posisinya lebih jauh sedikit (1,7km), maka dari Grand Centerpoint Apartemen ke stasiun lebih praktis jika menumpang ojek pangkalan atau ojek berbasis aplikasi.
Namun bila tetap ingin berjalan kaki demi menggerakan badan, perkiraan waktu yang harus Anda ketahui sekitar 16 menit.
Pembangunan apartemen ini sendiri sudah rampung. Unit 1 bedroom dengan semi gross 21/18.3 m2 dijual dengan harga Rp274 Juta, dan 2 bedrooms dengan semi gross 33,5/29,3 dijual dengan harga Rp406 Juta.

Efek Tol Akses Tanjung Priok ke Sektor Properti



Efek Tol Akses Tanjung Priok
ke Sektor Properti



Jalan Tol Akses Tanjung Priok sepanjang 11,4 km, telah diresmikan sejak Sabtu (15/4). Peresmian ini dilakukan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Plt. Gubernur DKI Jakarta Soemarsono.
Presiden Jokowi mengatakan dengan dioperasikannya jalan tol ini, maka keluar masuk truk kontainer dari Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan utama Indonesia akan lebih cepat dan lancar, yang berimplikasi juga pada meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia.
Pembangunan jalan tol yang dimulai sejak tahun 2008 ini memang mengalami cukup banyak permasalahan kompleks, mulai dari pengadaan lahan hingga ketidaksesuaian mutu beton sebanyak 69 pilar sehingga dilakukan pembongkaran dan pergantian.


“Sekitar 3.600 truk kontainer akan lalu lalang di jalan tol ini. Dengan adanya tol akses Tanjung Priok ini, kecepatan keluar masuk pelabuhan kontainer dapat ditingkatkan. Artinya kapal-kapal petikemas tersebut bisa dilayani dengan baik,” jelas Presiden Jokowi.
Jalan Tol Akses Tanjung Triok merupakan jalan tol yang diresmikan pertama dari 392 km jalan tol yang akan diresmikan sepanjang tahun 2017.
Menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Kementerian PUPR saat ini juga tengah melaksanakan proses pengadaan lahan untuk Seksi W2 sepanjang 6km.
Jalur tersebut bakal menghubungkan jalan Tol Akses Tanjung Priok dengan Tol Dalam Kota, dan ditargetkan rampung pada akhir tahun 2019 bila tidak ada kendala pembebasan tanah dan pembiayaan.
“Namun demikian kami perlu memonitor hubungan antara pola transportasi dan tata guna lahan yang berubah dengan keberadaan ruas tol baru ini,” tambah Menteri Basuki.

Meningkatkan Potensi Properti Sekitar
Kehadiran jalan tol ini bagi Direktur Jenderal Bina Marga, Arie Setiadi Moerwanto, diyakini mampu meningkatkan kapasitas jalan metropolitan Jakarta serta memperkuat konektivitas dalam mengembangkan potensi ekonomi Indonesia.
“Termasuk juga mengurangi waktu tempuh dan menurunkan biaya transportasi bagi pengendara yang melintas,” katanya.
Berdasarkan laman resmi pu.go.id, Tol Akses Tanjung Priok dibangun dengan menelan biaya konstruksi Rp4,1 Triliun.
Jalan ini juga akan menjadi percontohan jalan tol ramah lingkungan yang dilengkapi dengan sound barrier, guna meminimalisir suara bising yang bisa mengganggu ketenangan permukiman yang ada di sisi jalan.
Jalan Tol Akses Tanjung Priok terdiri dari lima seksi yakni Seksi E-1 Rorotan-Cilincing (3,4 km), E-2 Cilincing-Jampea (2,74 km), E-2A Cilincing-Simpang Jampea (1,92 km) dan NS Link Yos Sudarso-Simpang Jampea (2,24 km) dan NS Direct Ramp (1,1 km).
Dari kacamata pengembang Sentra Timur Superblock, dibukanya Tol Akses Tanjung Priok dipercaya bakal sangat berpengaruh dalam mengurai kemacetan di Jakarta.
“Sangat memungkinkan, warga Jakarta Timur dapat mengakses kawasan Tanjung Priok hanya dalam waktu lima menit saja dan ke taman hiburan keluarga Ancol dapat ditempuh selama kurang lebih 15 menit berkendara,” terang Suprayitno Rais selaku Deputy Project Director Sentra Timur Superblock kepada Rumah.com.


Tak hanya itu, Rais memprediksi jalan Tol Akses Tanjung Priok bisa membuat potensi bisnis properti semakin menarik tidak hanya di Jakarta Utara saja, melainkan juga area timur yang lokasinya relatif dekat dengan pintu tol.
“Kawasan Jakarta Timur pun menjadi sangat prospektif karena wilayah ini terintegrasi langsung dengan Tol JORR dan Tol Akses Tanjung Priok,” tutupnya.


Stabilnya Harga Rumah di Depok



Stabilnya Harga Rumah di Depok


Sebagai wilayah penyangga Ibukota, Depok yang letaknya menjadi jembatan antara selatan Jakarta dengan Bogor, semakin diramaikan oleh sektor residensial. 
Jika pengembangan hunian vertikal banyak dilakukan di tengah kota, lain halnya dengan proyek perumahan tapak.
Untuk perumahan kelas menengah-bawah, sangat mudah dijumpai di sisi barat dan selatan Depok. Lokasi yang dimaksud antara lain Sawangan, Cinangka, Pengasinan, Citayam, Bedahan, Cipayung, dan Bojongsari.
       Segelintir lokasi tersebut menjadi incaran para property seeker (pencari rumah) yang memiliki penghasilan sedang dan mengharapkan akses yang mudah dengan lokasi bekerja.
“Bagi first time buyer, Depok adalah lokasi yang cukup ideal bagi mereka di samping mengukur pada penghasilan yang masuk kelas menengah. Misal pasangan muda dengan pendapatan bulanan sekitar Rp10 juta,” ujar Country Manager Rumah.com, Wasudewan.
Merujuk data Rumah.com Property Index, median harga rumah di Depok terpantau stabil sejak dua tahun silam. Posisi harga selalu di atas Rp6 juta per meter persegi dan tak pernah menembus angka Rp7 juta.
“Median harganya konsisten berada di bracket Rp6,2 juta – Rp6,3 Juta. Sekalipun mengalami penurunan, tetap tidak pernah kurang dari batasannya,” katanya.
Meski demikian, harga sempat mengalami kenaikan pada tiga bulan terakhir tahun lalu di mana persentasenya mencapai 6,47%. Ini menyebabkan adanya koreksi harga dari Rp6,22 juta menjadi Rp6,63 juta.
Wasudewan menambahkan, “Pembangunan jalur Tol Depok-Antasari (Desari) serta masuknya developer besar ke Depok seperti Agung Podomoro Group yang mengembangkan proyek bernilai triliunan boleh jadi meningkatkan pamor Depok saat itu.
Apalagi berdasarkan kanal Perumahan Baru Rumah.com, Depok masih menyimpan cukup banyak perumahan seharga Rp350 juta-Rp500 jutaan.”
Azis Cahya Perdana, Manager Marketing PT. Genesis Indojaya menuturkan bahwa jangkauan daya beli konsumen perumahan di Depok cukup beragam.
Ada first time buyer yang mencari harga rumah di kisaran Rp350 juta hingga Rp500 juta. Ada pula pembeli yang membeli rumah kedua atau rumah kesekian mereka. Mereka biasanya mengincar hunian di kisaran Rp600 juta – Rp1 miliar.
“Pembeli yang telah memiliki rumah dan membeli rumah keduanya atau yang kesekian di Depok kebanyakan adalah orang yang telah mapan di sana. Rumah berikutnya yang mereka beli biasanya untuk anak-anak mereka, sehingga orang tua dan anak tersebut bisa tetap berdekatan,” ia menjelaskan.

Sawangan Bidikan Utama
Serupa dengan Tangerang Selatan, Depok rupanya juga mempunyai sunrise location yang dinobatkan kepada kawasan Sawangan. Bambang Herry, tim pemasaran Perumahan Taman Melati Indah, menjabarkan setidaknya ada dua alasan mengapa Sawangan menjadi primadona konsumen.
Pertama, adalah akses jalan. Sawangan sendiri merupakan wilayah yang berada di perbatasan antara Gunung Sindur (Kabupaten Bogor), Tangerang Selatan, dan Jakarta.
Saat ini, harga properti di Tangerang Selatan dan Jakarta sudah melonjak tinggi berkisar Rp900 Juta–Rp2 Miliar. Namun, Sawangan dengan harga tanah yang sekitar Rp2,5 juta per meter masih menawarkan rumah senilai Rp500 jutaan.
“Belum lagi dengan rencana adanya penambahan akses jalan tol Cinere-Jagorawi yang bisa memudahkan akses menuju lokasi-lokasi lain yang prospektif seperti Serpong dan Cibubur. Ini akan berpotensi menaikan harga properti setiap tahunnya,” Bambang mengatakan.
Alasan kedua adalah suasana lingkungan yang masih asri. Hal tersebut terlihat dari kualitas air yang terpantau baik, sehingga layak dikonsumsi.

Rumah123 DotCom - Property Rumah